Orang yang Dibesarkan Ibu Kritis Sering Tampilkan 8 Perilaku Ini Saat Dewasa, Menurut Psikologi

Peran Ibu dalam Pembentukan Kepribadian Anak
Hubungan antara ibu dan anak adalah salah satu fondasi paling kuat dalam pembentukan kepribadian seseorang. Ibu sering menjadi figur utama dalam proses tumbuh kembang anak—baik secara emosional, sosial, maupun psikologis. Namun, ketika seorang anak dibesarkan oleh ibu yang terlalu kritis, dampaknya bisa terbawa hingga dewasa.
Kritik tidak selalu buruk. Kritik yang konstruktif dapat membantu anak berkembang. Tetapi kritik yang terus-menerus, meremehkan, membandingkan, atau disampaikan tanpa empati dapat membentuk luka emosional yang dalam. Berikut adalah delapan perilaku yang sering muncul pada orang dewasa yang tumbuh dengan ibu yang sangat kritis:
1. Terlalu Keras pada Diri Sendiri
Salah satu dampak paling umum adalah munculnya inner critic yang sangat kuat. Anak yang sering dikritik cenderung menginternalisasi suara ibunya sebagai suara batin mereka sendiri. Saat dewasa, mereka bisa:
- Sulit merasa puas dengan pencapaian sendiri
- Selalu merasa “belum cukup baik”
- Menyalahkan diri secara berlebihan saat melakukan kesalahan
Alih-alih melihat kesalahan sebagai proses belajar, mereka melihatnya sebagai bukti kegagalan pribadi.
2. Perfeksionisme Berlebihan
Karena terbiasa dinilai, mereka belajar bahwa cinta dan penerimaan harus “diperoleh” melalui performa yang sempurna. Akibatnya, banyak dari mereka tumbuh menjadi perfeksionis. Perfeksionisme ini sering kali bukan tentang standar tinggi yang sehat, tetapi tentang ketakutan terhadap kritik, penolakan, atau rasa malu. Mereka mungkin bekerja sangat keras, tetapi motivasinya lebih didorong oleh kecemasan daripada passion.
3. Sensitif terhadap Kritik
Ironisnya, orang yang dibesarkan dengan banyak kritik justru bisa sangat sensitif terhadap kritik saat dewasa. Bahkan masukan ringan bisa terasa seperti serangan pribadi. Hal ini terjadi karena kritik mengaktifkan kembali memori emosional masa kecil—rasa tidak cukup baik, tidak diterima, atau tidak dicintai sepenuhnya.
4. Sulit Percaya Diri
Kepercayaan diri terbentuk ketika anak merasa dihargai dan diterima apa adanya. Jika masa kecil dipenuhi komentar seperti: “Kamu bisa lebih baik dari ini.” “Kenapa kamu tidak seperti si A?” “Itu saja tidak bisa?” Maka citra diri yang terbentuk sering kali rapuh. Saat dewasa, mereka mungkin tampak kompeten dari luar, tetapi di dalam merasa ragu dan penuh ketidakpastian.
5. People-Pleasing Berlebihan
Sebagian orang mengembangkan pola menyenangkan orang lain sebagai mekanisme bertahan hidup. Mereka belajar bahwa konflik atau ketidaksempurnaan bisa berujung pada kritik. Akibatnya, mereka:
- Sulit mengatakan “tidak”
- Mengutamakan kebutuhan orang lain dibanding diri sendiri
- Takut mengecewakan orang
Motivasi utamanya adalah menghindari penolakan atau kritik tambahan.
6. Takut Gagal Secara Ekstrem
Karena kegagalan di masa kecil sering disertai kritik keras, mereka bisa tumbuh dengan ketakutan berlebihan terhadap kegagalan. Sebagian menjadi overachiever, sementara yang lain justru menghindari tantangan sama sekali. Mengapa? Karena mencoba berarti berisiko dikritik lagi. Ini bisa menghambat perkembangan karier, hubungan, bahkan potensi diri.
7. Sulit Mengekspresikan Emosi
Ibu yang sangat kritis sering kali juga kurang responsif secara emosional. Anak mungkin belajar bahwa mengekspresikan kesedihan, kemarahan, atau kekecewaan hanya akan dibalas dengan kritik. Saat dewasa, mereka bisa:
- Memendam perasaan
- Merasa tidak nyaman saat membicarakan emosi
- Terlihat “dingin” atau tertutup
Padahal, di dalam mereka mungkin menyimpan banyak emosi yang belum terselesaikan.
8. Pola Hubungan yang Tidak Sehat
Pengalaman masa kecil membentuk blueprint hubungan di masa depan. Orang yang tumbuh dengan ibu yang kritis mungkin tanpa sadar tertarik pada pasangan atau atasan yang juga kritis. Mengapa? Karena pola itu terasa “familiar”. Sebagian juga mengalami kesulitan menerima kasih sayang. Mereka mungkin merasa tidak layak dicintai sepenuhnya, atau selalu menunggu momen di mana orang lain akan menemukan “kekurangan” mereka.
Bukan Vonis Seumur Hidup
Penting untuk ditekankan bahwa memiliki ibu yang kritis bukan berarti seseorang akan selamanya terjebak dalam pola tersebut. Kesadaran adalah langkah pertama menuju perubahan. Dengan refleksi diri, terapi, atau membangun hubungan yang sehat dan suportif, seseorang dapat:
- Melembutkan inner critic
- Mengembangkan self-compassion
- Membangun rasa percaya diri yang lebih stabil
- Belajar menerima diri apa adanya
Psikologi modern menekankan bahwa masa lalu memengaruhi kita, tetapi tidak sepenuhnya menentukan masa depan kita.