3 Hari Hingga Ramadan, Niat Qadha dan Panduan Lengkap Lunasi Kewajiban

Persiapan Mengqadha Puasa Ramadan: Peringatan Penting bagi Umat Muslim
Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, umat Muslim diingatkan untuk segera melunasi utang puasa yang belum terlakukan tahun lalu. Saat ini, waktu yang tersisa hanya sekitar tiga hari sebelum memasuki Ramadan 1447 H. Hal ini menjadi peringatan penting, khususnya bagi mereka yang masih memiliki tanggungan puasa dari tahun sebelumnya.
Pada dasarnya, ibadah puasa Ramadan adalah salah satu rukun Islam yang wajib dilaksanakan. Jika seseorang tidak dapat menjalankannya karena alasan tertentu, maka ia wajib menggantinya pada waktu lain. Proses penggantian ini disebut dengan puasa qadha. Dalam hal ini, niat khusus sangat penting untuk ditanamkan dalam hati, terutama pada malam hari sebelum fajar tiba.
Niat Khusus dalam Puasa Qadha
Puasa qadha harus disertai dengan niat yang jelas dan tulus. Niat tersebut berbeda dengan niat puasa tunai atau sunnah. Adapun lafal niat untuk puasa qadha Ramadan adalah:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلهِ تَعَالَى
Artinya: “Aku berniat untuk mengqadha puasa bulan Ramadhan esok hari karena Allah swt.”
Perbedaan antara niat puasa qadha dan puasa biasa terletak pada penggunaan kata qadhā dan adā. Kata adā digunakan untuk puasa yang dilakukan tepat pada waktunya, sedangkan qadhā merujuk pada puasa yang dilakukan di luar waktu asli untuk mengganti kewajiban yang terlewat.
Ketentuan Niat Puasa
Sebagaimana ibadah lainnya, sahnya puasa sangat bergantung pada niat. Oleh karena itu, niat harus diniatkan sejak malam hari, tepat sebelum fajar menyingsing. Aturan ini juga berlaku untuk puasa qadha, baik itu puasa Ramadan maupun puasa karena nadzar.
Aturan ini didasarkan pada hadits Rasulullah SAW yang menyatakan:
"Siapa yang tidak berniat di malam hari sebelum fajar, maka tiada puasa baginya."
Dengan demikian, bagi umat Muslim yang ingin memanfaatkan sisa waktu tiga hari ini, pastikan niat sudah mantap sejak malam hari.
Perhitungan Awal Ramadan 1447 H
Berdasarkan perhitungan hisab, 1 Ramadan 1447 H diprediksi jatuh pada 18 Februari 2026. Hal ini telah ditetapkan oleh Muhammadiyah menggunakan metode perhitungan kalender Hijriah tertentu. Namun, bagi masyarakat luas, pengumuman resmi dari pemerintah tetap menjadi acuan utama.
Kementerian Agama akan menggelar Sidang Isbat pada Selasa, 17 Februari 2026. Sidang ini bertepatan dengan tanggal 29 Sya’ban 1447 H dalam penanggalan Islam. Pemerintah akan menurunkan tim di berbagai titik di seluruh penjuru Indonesia untuk melakukan rukyatul hilal. Jika posisi hilal memenuhi kriteria visibilitas MABIMS, maka puasa akan dimulai serentak pada 18 Februari. Namun, jika hilal tidak terlihat, maka bulan Sya’ban akan digenapkan menjadi 30 hari, sehingga awal puasa kemungkinan besar akan bergeser ke tanggal 19 Februari 2026.
Perbedaan Metode Penetapan
Perbedaan metode penetapan seperti hisab dan rukyat ini adalah hal yang lumrah dan wajar di Indonesia. Muhammadiyah konsisten dengan Hisab Hakiki, sementara Pemerintah dan NU tetap pada metode observasi lapangan.
Selain awal puasa, prediksi Idul Fitri 1447 H juga mulai ramai diperbincangkan sebagai bahan persiapan mudik. Ada potensi perbedaan hari raya antara tanggal 20 Maret dan 21 Maret 2026 mendatang.
Persiapan Menyambut Ramadan
Esensi menyambut Ramadan adalah mempersiapkan diri secara maksimal. Umat Islam dianjurkan mulai menjaga kesehatan fisik agar kuat menjalankan ibadah di bawah cuaca yang mungkin tidak menentu. Selain fisik, persiapan spiritual seperti memperbanyak istigfar dan mengatur pola ibadah juga sangat disarankan.
Mari manfaatkan sisa waktu yang tinggal hitungan hari ini untuk membersihkan sisa-sisa utang puasa tahun lalu. Kepastian resmi tetap menunggu hasil Sidang Isbat Kemenag pada 17 Februari 2026 nanti.